tak pandai aku mengilustrasikan kehendakku yang rapuh
menjadikanmu bunga teratai biru yang dikenang namun hidup diatas kolam
dan terus mengambang.
kekecewaan terhambur dari setiap sudut hatimu seperti gema takbir yang meluluhlantakkan
setiap ambisi dan kesombonganku yang terus memuja diriku sendiri.
setiap kalimatnya seperti surat cinta yang tak pernah berhenti memuji namun sunyi meratap.
surat cinta ini, adalah wajah dari hati yang tak berhenti melatih rasa.
berimajinasi bahwa engkau saat ini berada didepanku, mengatakan isi setiap paragraph tulisanmu
dan aku menyahutinya dengan belaian tanganku yang membasuh setiap inchi tubuhmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar