tak kunjung kau menyapaku, menyeruak tabir isi hati yang sedang gundah ataupun marah
betapa insyaf diriku atas ikatan yang tidak masuk akal namun mengasyikkan ini,
bercampur luka yang silih berganti dengan kerinduan yang terucap dengan suara-suara lirih.
mencair dan beku dengan tiba-tiba
menangis dan tertawa hanya dengan kalimat tanpa sentuhan jari-jari fiksi yang pernah menggoda
kamu begitu dingin, membeku namun sirna seperti angin.
asmaramu begitu panas seperti bara tanpa jilatan api yang memusnahkan.
aku tersipu dengan lamunanku sendiri
perasaan yang naif, entah mengapa aq suka
hanya dengan kalimat sapa, (harapanku)
aq kira sudah cukup menjadikanku lentera dengan sedikit sumbu yang akan menyala beberapa saat,
untuk menerangi hatiku sendiri,
bukan karena egois, namun wajahmu terlalu jauh dan jemariku takkan pernah mampu meraihnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar