aku terbaring, membayangkan biduk menari merubah mata angin,
meniscayakan kerlipnya menipu kompas para nahkoda
warna gelapmu yang mengguncang,
dengan mata yang telah lelah memandang langit,
bidadariku, yang segera mandi di telaga sunyi dengan jejaka muda yang periang
dan sesekali mengerlingkan mata
segeralah menangis bidadariku, jatuhkan hatimu pada setiap lelaki
biarkanlah sesekali terluka dengan begitu dalam
sampai kau tak sanggup menggantinya dengan apapun.
lalu datanglah padaku,
segeralah menangis bidadariku, menangislah hingga hanya aq
yang sanggup menerima sedikitpun cinta yang pernah tersimpan untukku.